“Hal yang menarik, saya bersama pemandu bisa enjoy, saya bisa menikmati keindahan, karena pemandu bisa mendeskripsikan bagaimana pemandangan di kiri kanan sungai, dan saya bisa menikmatinya. Ini yang dinamakan inklusi,” ucap Sikdam, yang pernah mendapatkan penghargaan bergengsi International Award for Young People dari Pangeran Philip pada tahun 2014 tersebut.
Meski tak dapat melihat langsung, Sikdam merasa penyampaian pemandu Arung Jeram Lukub Badak, Muchsin, sangat memberikan dukungan langsung selama pengarungan berlangsung.
“Secara fisik saya bisa menikmati arung jeram, dan secara non fisik saya mendapatkan penjelelasan bagaimana suasana di kanan kiri sungai ini,” kata Sikdam.
Bagi Sikdam, pelayanan jasa wisata yang dilakukan kepada dirinya bersama para siswa dan guru dan puluhan siswa berkebutuhan khusus dari SLB Pegasing yang ikut serta, menjadikan Arung Jeram Lukub Badak bersifat inklusi, yang ramah terhadap kelompok disabilitas, kelompok rentan maupun anak-anak.
“Alhamdulillah, saya bisa menikmati. Ini bagian dari inklusivitas. Nyaman, luar biasa, karena tidak ada masalah. Saya pikir saya tidak bisa menikmati, jujur, saya kecanduan. Jadi untuk inklusi ini, semua harus berkolaborasi untuk inklusivitas, termasuk pemandu yang sportif,” terang Sikdam lagi.
Ia mengakui, pelayanan yang maksimal dari pengelola jasa wisata, harus diutamakan, baik fasilitas fisik maupun nonfisik, sehingga memberikan dampak positif bagi daerah.
“Saya bilang untuk arung jeram ini, nilai plus, dan harus dipromosikan. Orang banyak harus tau. Karena ini salah satu jenis wisata rekomendasi di provinsi sampe nasional.Terutama untuk teman-teman disabilitas, silahkan ke Arung Jeram Lukub Badak Inklusi. Untuk wisata inklusi, one hundred percent recomended. Kalau gak mencoba rugi. Karena dapat alam, edukasi, lingkungannya, komplit,” papar Sikdam.




